This is default featured post 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Senin, 20 Februari 2012

Ledakan Jumlah Orang Kaya Baru di Indonesia





TEMPO.CO, Jakarta - Dua puluh tahun lalu tak pernah kita bayangkan ini semua terjadi. Konser artis mancanegara diserbu penonton meski tiketnya belasan juta rupiah. Ribuan orang antre panjang untuk mendapatkan BlackBerry dan iPhone terbaru. Restoran fine dining sering kekurangan tempat duduk. Pengusaha muda beramai-ramai menjadi anggota kelompok kebugaran atau klub bermain golf.
Lebih dari sekadar fenomena yang mengejutkan, satu hal yang kerap luput dari pengamatan: jumlah orang yang punya daya beli "lebih dari cukup" itu terus bertambah. Jika ukuran Bank Dunia yang dipakai, yakni bahwa kelompok ini adalah mereka yang pengeluaran per kapita per harinya US$ 2-20, maka terdapat sekurang-kurangnya 130 juta orang. Angka itu 56,5 persen dari total penduduk Indonesia. Padahal, tujuh tahun sebelumnya, jumlahnya hanya 37,7 persen. (Baca juga: Kelas Pendorong Mesin Pertumbuhan)
Berminggu-minggu Tempo melakukan liputan mendalam tentang ledakan kelas konsumen baru. Tempo memotret gaya hidup sekelompok orang yang menyerbu tiket konser musik Evanescence, Roxette, Stevie Wonder, atau Dream Theater dan menghabiskan separuh penghasilannya untuk mencicil mobil terbaru. Siapa saja mereka? Apa latar belakang hidupnya, juga--jika ada--afiliasi politik mereka? Apakah mereka berpeluang menggerakkan ekonomi?
Amrullah, 33 tahun, adalah salah contoh tumbuhnya kelas konsumen baru. Pria asal Jember, Jawa Timur, itu punya hobi main baru: main golf. Ia pernah menjajal sejumlah lapangan di Jakarta, sampai ke Bali, Bintan, atau Batam. Saking gemarnya bermain golf, tahun lalu dia mendaftar sebagai anggota di Lapangan Golf Matoa, Ciganjur, Jakarta Selatan. Untuk itu, ia membayar hampir Rp 100 juta. Harga itu belum termasuk biaya tahunan Rp 6 juta.
Kata Amrul, bermain golf di Ibu Kota kini tidak seleluasa dulu. Sekarang, lapangan harus dipesan jauh-jauh hari. "Sekarang, orang main golf bertambah banyak," ujarnya.
Sepuluh tahun lalu, kisah Amrul, ketika dia baru di tiba Jakarta, ia menumpang tidur selama satu tahun di kamar kos kakak kelasnya di Setiabudi, Jakarta Selatan. Saat itu, ia baru bekerja sebagai konsultan di perusahaan milik bekas dosennya. Dua tahun setelah itu, ia membeli rumah tipe 70 dengan luas tanah 90 meter persegi di Cibubur. Harganya Rp 250 juta. Dari Cibubur, sehari-hari ia naik kendaraan umum. Baru beberapa bulan kemudian, ia membeli mobil. Tahun berganti, mobilnya pun ganti kelas dari Toyota Yaris ke Honda CRV. Rumahnya juga "naik pangkat" ke townhouse di Cilandak, Jakarta Selatan, seharga Rp 1,5 miliar. Dia juga membeli waralaba makanan cepat saji, membuka kos-kosan 15 kamar senilai Rp 600 juta, serta ruko di Cinere Rp 750 juta. (Baca juga: Mereka yang Beranjak Kaya)
Orang seperti Amrul ini kini jumlahnya berlimpah di Indonesia. Mereka bolak-balik Jakarta-Singapura untuk nonton konser atau berpatungan membeli tas Hermes biar keren. (Selanjutnya >>)
Yang berlangsung di Indonesia saat ini adalah fase yang telah dilalui banyak negara. Pertumbuhan ekonomi Indonesia--dengan pendapatan per kapita US$ 3.000-an pada 2010--telah mengangkat jutaan orang dari jurang kemiskinan. Sekitar 70 persen ekonomi Indonesia ditopang oleh kelas konsumen baru ini. Kolom dosen ekonomi Universitas Indonesia Chatib Basri di majalah Tempo edisi ini menjelaskan secara jernih soal ini. Di negara seperti Jepang dan Korea Selatan, kelompok kelas menengah ini terbukti bisa mendorong pertumbuhan ekonomi. Di Indonesia, pemerintah mengabaikan peran kelompok ini.
Namun, tumbuhnya kelas konsumen baru ini tak semuanya positif. Dosen filsafat Universitas Indonesia Rocky Gerung menyebut mereka sebagai parasit kapitalisme. Kolomnya menjelaskan soal ini. Mereka mampu beli mobil Alphard, tapi selalu mengumpat saat macet. (Baca juga: Agar Tak Jadi Malin Kundang)
Meski kuat secara ekonomi, kelompok konsumen baru ini memiliki peran yang minim dalam politik. Kasus Prita Mulyasari, pasien yang digugat rumah sakit Omni Internasional, Tangerang, karena mengeluhkan layanan di jejaring sosial media adalah contohnya. Tiga tahun lalu dia dibela oleh jutaan orang lewat Twitter dan Facebook. Tapi, setelah itu persoalan dianggap selesai.  "Saya merasa ditinggal," kata Prita. (Baca: Sumpah Serapah Tepublik Tweeps).
Dia akhirnya dihukum enam bulan penjara dengan masa percobaan satu tahun. Kini, dia sudah melayangkan peninjauan kembali. "Saya tak berani lagi mengeluh di sosial media," katanya.  "Takut mempengaruhi keputusan."
Prita adalah contoh pembelaan kelas menengah dalam sebuah aksi yang disebut click activism--aksi yang nyaris tanpa risiko. Ya, begitulah potret kelas menengah Indonesia. Selengkapnya baca laporan utama Tempo, "Mereka yang Beranjak Kaya".

Minggu, 19 Februari 2012

Cara Menjaga Facebook Supaya tidak TERKENA HACKER

==>> Klik di sini
''KLIK SUKA''
lalu Lihat info 

Senin, 13 Februari 2012

VALENTINE

SAYA INGATKAN....!! VALENTINE BERASAL DARI BETAWI INDONESIA..BUKAN DARI ROMAWI.

Zaman VOC masih berkuasa di Batavia. Konon ada seorang gadis yang namanya si Entin Bin Sueb.
Dia Jadirebutan antara cowo betawi, sunda dan seorang meneer Belanda.

Pada tanggal 13 feb 1644 hari sabtu,ketiganya kebetulan bertemu di rumah si Entin.
Mereka berebut dan akhirnya berkelahi..

Ditengah-tengah perkelahian, si Entin tidak mau ada keributan mencoba melerai, tetapi salah satu senjata mereka tepat mengenai kepala si Entin.
Sontak warga kampung yang liat kejadian itu lalu berteriak
"PALA ENTIN BERDARAH...TUH PALE ENTIN.....PALE ENTIN...."

Si Entin lalu dibawa ke Rumah sakit, tapi esoknya tanggal 14 Februari Entin meninggal.

Untuk mengenang kejadian itu si Menner Belanda selalu mengadakan acara untuk mengenang Entin yang dicintainya.....

Di Belanda di cuma inget kata-kata2 warga Betawi
"PALEENTIN...PALE ENTIN...."
Maka jadilah Hari pale entin atau VALENTIN

Sekarang udah ada VCD nya,yang berminat silakan ke toko terdekat..haha...

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More